default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Prostitusi Jadi Bisnis, Buah Dari Kapitalis?

Prostitusi Jadi Bisnis, Buah Dari Kapitalis?
Suara Pembaca
Penulis : Yulida Hasanah (Aktivis Peduli Perempuan dan Generasi, Tinggal di Kabupaten Jember)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Yulida Hasanah
(Aktivis Peduli Perempuan dan Generasi, Tinggal di Kabupaten Jember)

VIRAL, prostitusi online kembali menjadi berita hangat akhir-akhir ini, setelah masalah yang sama juga sempat melambung pada tahun 2015 lalu. Terlepas dari apakah pelakunya adalah artis atau bukan, permasalahan prostitusi online bukanlah masalah biasa yang tiba-tiba muncul dan berkembang begitu saja. 

Hal tersebut bukan hanya menjadi bukti bahwa masyarakat kita masih dikelilingi oleh penyakit-penyakit sosial yang muncul akibat lepasnya ketaqwaan dari pribadi-pribadi muslim/muslimah atau cueknya masyarakat atas kemaksiatan yang terjadi di  sekitar mereka.

Tetapi, ada hal yang mendasar yang menjadikan prostitusi sebagai bisnis yang tak hanya dilakoni kalangan masyarakat bawah, namun juga sampai kalangan artis. Miris, 'materi' telah menjauhkan mereka dari kemuliaan sebagai perempuan yang wajib dijaga kehormatannya. 

Kapitalis sebagai pandangan hidup yang lahir dari sekulerisme (memisahkan aturan Agama dari kehidupan dunia) memandang segala sesuatu yang menguntungkan secara materi /menghasilkan uang itu akan terus diproduksi. Dan selama ada permintaan dari konsumen, maka barang yang haram dibisniskanpun akan menjadi halal dalam pandangan mereka. Termasuk dalam memandang tentang 'perempuan', maka perempuan juga bisa menjadi komoditi/barang bernilai ekonomi yang menguntungkan jika banyak yang menginginkan. 

Inilah kapitalis, pandangan hidup yang membuat siapa saja yang mengambilnya akan menjadi rakus, serakah, mata duitan bahkan menghalalkan apa saja agar bisa membuahkan keuntungan materi(kapital), termasuk menjual kehormatan dan kemuliaan seorang perempuan. 

Maka tak salah pernyataan yang disampaikan oleh   Sosiolog Imam Prasodjo menanggapi masalah maraknya prostitusi ini, "praktik prostitusi yang dilakoni oleh selebriti tercipta sebagai dampak era kapitalisme global.
Segalanya bisa jadi komoditi, bisa diperjualbelikan, termasuk imaji," (BBC News Indonesia). 

Sungguh terlalu bukan? Inilah produk kapitalis yang saat ini dijadikan sebagai dasar perekonimian dunia saat ini. Akhirnya wanitapun biasa menjadi komoditi. Apakah hal ini masih bisa kita sebut manusiawi? 

Wanita, perhiasan yang wajib dihormati dan dilindungi bukan untuk dihargai

Setelah jelas bahwa yang menjadi masalah mendasar dari maraknya prostitusi adalah diambilnya pandangan kapitalis sebagai standar dalam memandang perempuan. Pasti kita yang masih memiliki akal sehat, jelas tak akan rela jika para perempuan disamakan denga n 'barang dagangan', yang hanya dihargai secara materi dan bahkan jatuh secara harga diri(kehormatan). 

Berbeda dengan Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam bukan hanya sebatas agama spiritual, tetapi juga merupakan seperangkat aturan yang sempurna dan paripurna sebagai solusi bagi permasalahan kehidupan manusia. Islam sangat memperhatikan penjagaan kehormatan seorang perempuan.

Sebagaimana laki-laki, hak-hak perempuan juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak wanita. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki.

Selain menjamin hak-hak kaum perempuan. Islam pun menjaga mereka dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara/perhiasan yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian Allah SWT menetapkan sejumlah aturan terkait kehidupan perempuan. 

UDi antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah.
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)

Seorang perempuan juga diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (TQS. Al Ahzab :33).

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Dan penjagaan kehormatan kaum perempuan telah pernah dirasakan saat kepemimpinan Islam sejak di Madinah sampai pada masa Turki Ustmani. Wallahua'lam bishowab
 


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar